BeritaKesehatanPemerintahan

Koordinasi Pelaksanaan Imunisasi Tambahan Serentak 2025 di Gedung Smart Room Sampang

SAMPANG, SuaraPertiwi.id – Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang bertujuan melindungi hak-hak anak dan menyediakan bantuan kemanusiaan dan pembangunan di seluruh dunia (UNICEF), membantu pemerintah melakukan imunisasi tambahan serentak di Kabupaten Sampang Madura Jawa Timur. Rapat koordinasi pelaksanaan Imunisasi Tambahan Serentak (ITAS) digelar di Gedung Smart Room. Kamis 02/10/2025.

Dihadiri Bupati Sampang H. Slamet Junaidi S.IP, Ketua DPRD Sampang Rudi Kurniawan, A.Md.Gz, Forkopimda, Perwakilan UNICEF Jawa Timur DR. Armunanto, MPH (Health Specialist), Supardi, S.KM.,Kes (Konsultan Program Imunisasi), Ketua TP. PKK Kabupaten Sampang Selviana Slamet Junaidi, Ketua tim kerja surveilans dan imunisasi Dinkes Prov Jatim Eka Putri Lestari, S.KM.,M.EPID, Instansi Terkait dan Dinkes jajaran, Ketua Organisasi IDI dan tamu undangan.

Ini dilakukan untuk menekan penularan kasus campak dan pelaksanaan kegiatan hasil kerja sama UNICEF dengan Kementerian Kesehatan untuk Kabupaten Sampang ini akan digelar serentak.

Bupati Sampang sangat mengapresiasi digelarnya koordinasi pelaksanaan Imunisasi Tambahan Serentak (ITAS) untuk penanggulangan campak di kabupaten Sampang juga hadir perwakilan UNICEF. Sejak periode Januari – September, kasus campak di Sampang terjadi sebanyak 909 kasus dengan 9 angka kematian. Situasi ini harus menjadi perhatian bersama agar kasus campak ini segera dapat dikendalikan, penularannya dapat dihentikan dan pemberian imunisasi serentak dapat dilakukan ke semua anak di kabupaten Sampang rentan usia 9 bulan – 7 tahun.

“Melalui imunisasi tambahan ini dan dukungan lintas sektor, kita bisa menekan peningkatan kasus campak dan mencegah terjadinya kematian,” Harapnya.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Jawa Timur juga menilai langkah surveilans aktif yang dilakukan jajaran kesehatan di Kabupaten Sampang menjadi kinerja baik dalam upaya pengendalian kasus campak. Melalui pemantauan dan pelaporan berjenjang, kasus dapat terdeteksi lebih cepat sehingga penanganan bisa dilakukan segera.

“Kalau kita belajar dari pengalaman COVID-19, ketika pemantauan dilakukan terus-menerus, kasus bisa tercatat dan dilaporkan dengan baik. Itu yang sudah dijalankan di Sampang, dan patut diapresiasi, ujarnya.

Ia menjelaskan, pelaporan dari Puskesmas, tinjauan rumah sakit, hingga surveilans berbasis masyarakat menjadi instrumen penting dalam mengendalikan penyebaran penyakit. “Peran masyarakat juga sangat bermakna, sekecil apa pun laporan dari tetangga atau keluarga bisa membantu mempercepat deteksi, tambahnya.

Dinkes Jatim juga menyoroti lemahnya kekebalan tubuh anak akibat imunisasi yang tidak lengkap dan masalah gizi. Dari 9 kasus kematian akibat campak di Sampang, 4 anak diketahui belum pernah diimunisasi, sementara satu anak belum cukup umur untuk mendapatkan imunisasi karena baru berusia delapan bulan. Masalah gizi memperburuk kondisi. Anak yang mengalami malnutrisi memiliki daya tahan tubuh rendah, sehingga lebih rentan terhadap campak, katanya.

Menurut dia, campak merupakan penyakit dengan tingkat penularan tinggi. Satu kasus dapat menularkan ke 12 hingga 18 orang melalui droplet seperti batuk atau bersin. Kebiasaan masyarakat yang gemar berkumpul dinilai memperbesar peluang penularan. Karena itu, penguatan imunisasi dan surveilans aktif harus terus ditingkatkan, agar kita bisa menekan angka kasus dan mencegah kematian, tegasnya.

Sementara itu, Health Specialist United Nations Children’s Fund (UNICEF) Indonesia Armunanto menegaskan, peningkatan kasus campak di sejumlah daerah, termasuk Sampang, tidak bisa ditangani hanya oleh jajaran dinas kesehatan. Menurutnya, diperlukan keterlibatan lintas sektor untuk menekan laju penularan dan mencegah kematian anak. Masalah kesehatan masyarakat, termasuk campak, harus kita hadapi bersama. Tidak mungkin hanya diselesaikan oleh Dinas Kesehatan, ujarnya.

Armunanto menjelaskan, peningkatan kasus campak saat ini bukan hanya terjadi di Madura, tetapi juga di beberapa provinsi lain. Di antara kabupaten di Madura, Sumenep tercatat sebagai wilayah dengan kasus terbanyak. UNICEF bersama pemerintah daerah berkomitmen mendukung langkah-langkah penanggulangan campak di Sampang.

“Dengan ikhtiar bersama, insyaallah kita bisa mengatasi situasi ini. Anak-anak yang seharusnya sehat tidak boleh jatuh sakit, apalagi sampai meninggal,” katanya. (Red)

Related Articles

Back to top button